Purna Tugas Bukan Akhir Persaudaraan, Rekan Seperjuangan Datang Menjenguk Suhartono Danrem 042/Gapu Salurkan 25 Ribu Masker Bantuan Presiden, Lindungi Warga Jambi dari Dampak Kabut Asap Karhutla Musda X LVRI Jambi, PEPABRI Dorong Pewarisan Semangat Juang ’45 kepada Generasi Penerus SBC Soroti SOP dan Peran Askrindo-Jamkrindo dalam Sidang Kasus Semen Baturaja Danrem 042/Gapu dan Gubernur Jambi Tinjau Langsung Penanganan Karhutla di Londerang

Home / Politik

Senin, 26 Agustus 2024 - 13:45 WIB

Golkar Pilih Calon Lain Ketimbang Kader Sendiri yang Diakuinya Sebagai Jawara

Jambi – Partai Golkar akan segera menuntaskan proses pencalonan untuk Pilkada Serentak 2024 dengan menyerahkan dokumen B1 KWK kepada seluruh calon kepala daerah di Indonesia, termasuk di Kota Jambi.

Santer terdengar kabar bahwa dukungan untuk Kota Jambi akan diberikan kepada Maulana-Diza yang sama sekali bukan kader, dan bahkan tidak memiliki andil apapun dalam memenangkan Partai Golkar di Pemilu 2024.

Padahal, Golkar memiliki kader internal yang berprestasi, yakni Ketua DPD II Golkar Kota Jambi, Budi Setiawan. Di bawah kepemimpinan Budi Setiawan, Golkar mengalami peningkatan signifikan dalam perolehan kursi legislatif, dari 4 kursi menjadi 8 kursi, dan berhasil menduduki posisi Ketua DPRD Kota Jambi periode 2024-2029.

Baca :  Babinsa Muara Bulian Ajak Warga Aktifkan Poskamling Demi Perkuat Keamanan Lingkungan

Kinerja Budi Setiawan yang mengembalikan kejayaan Golkar setelah hampir 20 tahun menjadi sorotan positif.

Namun, meski Budi Setiawan telah menunjukkan prestasi dan dedikasi tinggi terhadap partai, Golkar memilih untuk mendukung calon lain, yang tidak memiliki kontribusi atau rekam jejak dalam mendukung partai. Keputusan ini menimbulkan tanda tanya besar di kalangan kader Golkar dan pengamat politik.

Pengamat politik dari Universitas Jambi (UNJA), Nasuhaidi, menilai keputusan Golkar sebagai langkah pragmatis yang mengabaikan kontribusi kader internal.

Baca :  Komsos Jadi Jembatan Kedekatan TNI dan Warga di Marga Manunggal Jaya

“Sebagai partai besar dan mapan, seharusnya Golkar memberikan penghargaan atau keistimewaan kepada kader yang telah berkomitmen dan konsisten, seperti Budi Setiawan,” ujarnya, Senin (26/8/2024).

Nasuhaidi juga menambahkan bahwa keputusan ini menunjukkan kurangnya konsistensi dalam pengelolaan partai.

Senada dengan Nasuhaidi, pengamat politik senior UNJA, Navarin Karim, menyayangkan langkah pragmatis yang diambil oleh DPP Partai Golkar.

“Saat ini, kita melihat adanya hegemoni politik dari elit pusat hingga tingkat daerah, yang mengabaikan otoritas dan keinginan lokal,” ungkap Navarin.

Ia menilai bahwa keputusan tersebut mencerminkan situasi politik yang kacau dan disayangkan bagi politik yang normal dan lurus.

Baca :  Cegah Karhutla, Babinsa Koramil 415-04/Muara Bulian Patroli Terpadu Bersama Tim Karhutla dan Warga

Navarin juga menganggap bahwa keputusan DPP Golkar mungkin dipengaruhi oleh kepentingan pribadi aktor di daerah yang mengabaikan suara dan keinginan masyarakat serta kader daerah.

“Ada kemungkinan bahwa kepentingan individu di daerah mempengaruhi keputusan di pusat, sehingga suara dan aspirasi lokal dikesampingkan,” tutupnya.

Dengan latar belakang ini, keputusan Golkar untuk mendukung calon di luar kader internal menimbulkan kekhawatiran tentang konsistensi dan kredibilitas partai dalam mendukung kader yang telah menunjukkan prestasi signifikan.**

Share :

Baca Juga

Politik

Kode Berpasangan Lagi di Pilgub Jambi, Inilah Bukti Keakraban Al Haris dan Abdullah Sani

Opini

Antara Pragmatisme dan Ideologi: Strategi PDIP dalam Pilkada Jambi 2024

Politik

Menuju DPRD Jambi, Caleg PKS Ahmad Syukri Dapat Doa dan Dukungan dari Ratusan Ulama dan Tokoh Masyarakat

Politik

Golkar Berisiko Kehilangan Dukungan Besar Jika Tidak Usung Budi Setiawan di Pilkada Kota Jambi

Politik

Perbedaan Surat Rekomendasi dan Surat Keputusan dalam Pencalonan Kepala Daerah

Politik

Golkar Kota Jambi Siapkan Tujuh Calon Wakil Wali Kota Untuk Budi Setiawan

Politik

Budi Setiawan Resmi Didukung Partai Gelora: Calon Kuat Wali Kota Jambi 2024

Nasional

ATOM: Viralitas yang Mengguncang Peta Politik Indonesia Menuju Pilpres 2029