Babinsa Danau Teluk Dampingi Reses Anggota DPR RI, Serap Aspirasi Warga Pasir Panjang Babinsa Jambi Timur Monitoring Pasar Murah, Pastikan Kegiatan Berjalan Aman dan Tertib Komsos Babinsa Pelayangan Perkuat Sinergi Warga Jaga Keamanan Lingkungan Babinsa Dukung Program Kampung Bahagia, Hadiri Pembentukan Pokja di Kelurahan Simpang III Sipin Babinsa Danau Teluk Dampingi Reses Anggota DPR RI, Serap Aspirasi Warga Pasir Panjang

Home / Nasional

Selasa, 9 November 2021 - 12:59 WIB

Nasi Grombyang Khas Pemalang Jadi Warisan Budaya Tak Benda, Ini Keistimewaannya

SRIWIJAYADAILY

Pernah mendengar nasi grombyang, kuliner khas Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah? Atau malah sudah pernah mencicipinya?

Kuliner berbahan utama nasi putih dan daging sapi atau kerbau berbumbu rempah ini, baru saja ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Bukan produk nasi grombyangnya yang menyandang predikat itu. Namun, proses pengolahannya yang membuat makanan itu istimewa.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang, Ismun Hadiyono menyampaikan, nasi grombyang masuk WBTB dalam kategori teknologi tradisional.

“Memang bentuknya benda, masuk Warisan Budaya Tak Benda. Ini mengacu lebih pada kategori tekniologi tradsional,” katanya.

Dia mengakui, pihaknya mengusulkan nasi grombyang menjadi salah satu WBTB sejak 2019 lalu. Dan, baru ditetapkan pada 29 Oktober 2021.

“Melihat perkembangan ke sini, makanan khas banyak yang diklaim daerah atau bahkan negara lain. Sehingga kami punya kewajiban mengusulkan nasi grombyang, itu asline sega grombyang,” ujarnya.

Baca :  Garuda Tanpa Dignity

Setelah nasi grombyang ditetapkan sebagai salah satu WBTB, pemerintah setempat bertanggung jawab atas empat pilar. Yakni  pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pelestarian.

“Saat ini ada beberapa warung makan yang jual nasi grombyang. Maka, kami akan bertanggungjawab untuk melakukan pelindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pelestarian,” katanya.

Apa itu nasi gombyang? Nama grombyang berasal dari bahasa Pemalang yang berarti mengapung di permukaan atau bergoyang-goyang.

Dalam penyajiannya, komposisi kuah lebih banyak ketimbang nasinya, sehingga nasi dapat mengapung dan bergoyang-goyang di antara kuah.

Nama grombyang tidak bisa didapati di kota-kota lain, sangat ikonik dan unik.

Tidak diketahui pasti, kapan makanan khas ini mulai diciptakan. Konon, nasi grombyang sudah ada sejak 1960-an.

Waktu itu, penjual nasi grombyang menjual dagangannya secara tidak menetap, tetapi berkeliling kampung.

Baca :  Pangdam XX/TIB: Keberhasilan Satgas Yonif 142/KJ Bukti Pengabdian Tulus untuk NKRI

Salah seorang pewaris nasi grombyang, Waridin menceritakan, dia sudah mulai membuka usaha jual nasi grombyang sejak 1978.

Sebelumnya, ia ikut membantu pamannya, Warso dalam usaha yang sama.

“Akhirnya buka sendiri sejak tahun 1978 sampai sekarang. Dulu dari harga 15 perak (Rp15), sampai sekarang sudah Rp16 ribu per porsi,” katanya, di warung miliknya Jalan Gatot Subroto nomor 35 Kecematan Pemalang, Jumat (5/11/2021).

Menurut Waridin, membuat nasi grombyang lebih rumit ketimbang soto daging ataupun daging kuah lainnya.

Mulai memasak daging, mengiris, ditambah menu kaldunya yang terbuat dari kluwak, serundeng serta lemak daging itu sendiri.

Kuahnya pun dibumbui rempah, seperti lengkuas, jahe, kunyit, daun salam, kemiri, dan lainnya. Kemudian sebelum disajikan ditaburi irisan onclang dan bawang merah.

Baca :  Babinsa Bantu Pemadaman Kebakaran Rumah Warga di Paal Merah, Api Diduga Akibat Korsleting Listrik

“Kalau dulu pakai daging kerbau, tapi karena sekarang sulit akhirnya pakai daging sapi. Butuh dua sampai tiga jam untuk membuat nasi grombyang,” katanya.

Waridin mengaku bangga usahanya melanjutkan warisan resep nenek moyangnya itu berbuah manis, setelah nasi grombyang ditetapkan menjadi salah satu WBTB.

“Saya senang dan bangga ini tercatat sebagai Warisan Budaya,” ujarnya.

Kebanggan lain diceritakannya ketika Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mampir dan menikmati nasi grombyangnya.

Saat itu ia tidak tahu, karena orang nomor satu di Jawa Tengah itu berpenampilan seperti pelanggan umum.

“Alhamdulillah, saya sebagai pedagang kecil didatangi pejabat itu kebanggan, apalagi Pak Gubernur orangnya sederhana, tidak mau ditonjolkan. Seperti rakyat biasa,” katanya.

Setelah itu, kata dia, kedainya tambah ramai, dikenal nasi grombyang yang didatangi gubernur. (*)

– Sumber: jatengprov.go.id/diskominfo

Share :

Baca Juga

Nasional

Hadiri Apel Gelar Pasukan, Danrem 043/Gatam: Siap Amankan Pilkada Serentak 2024

Nasional

Pangdam XVII/Cenderawasih Hadiri Sertijab Danlanud Silas Papare

Nasional

Bantu Kesulitan Masyarakat, Satgas Yonif RK 115/ML Barter Hasil Kebun dengan Bahan Makanan

Nasional

Kodim Jambi Gelar Apel Kendaraan Dinas

Nasional

Dandim 0415/Jambi Hadiri Apel Kesiapan Sarpras OMB 2023-2024 di Lapangan Polresta Jambi

Nasional

Satgas Yonif 143/TWEJ Lakukan Komsos Dengan Masyarakat Di Pedalaman Papua

Nasional

Danramil Muarobungo Dampingi Wakil Bupati Bungo Dalam Kunjungan Mengecek Pertumbuhan Anak Stunting Di Desa Sungai Mengkuang

Nasional

Babinsa Komsos Ajak Warga Perangi Narkoba dan Judi Online