Di Tengah Kabut Asap Karhutla, PEPABRI Jambi Tetap Semarakkan HUT ke-67 Danrem 042/Gapu dan Gubernur Jambi Kembali Turun ke Lapangan, Perkuat Penanganan Karhutla di Pulau Mentaro Menhut dan Kepala BNPB Pimpin Rakor Teknis Karhutla di Jambi, Sinergi TNI-Polri dan Pemda Diperkuat Karhutla Tahura Batanghari Kembali Terjadi, Kasiops Korem 042/Gapu Dampingi Gubernur Jambi Tinjau Lokasi Korem 042/Gapu dan BWS Sumatera VI Gerak Cepat Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak Kekeringan

Home / TNI-POLRI

Minggu, 1 Juni 2025 - 10:00 WIB

MERESAPI KEMBALI PANCASILA SEBAGAI BINTANG PEMANDU

Oleh: Dr. Arfa’i, SH, MH.

Dosen Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Jambi

Tanggal 1 Juni 2025 diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Meskipun pada tanggal 1 Juni 1945 belum terjadi finalisasi atas nama dan isi Pancasila, namun karena istilah “Pancasila” pertama kali diutarakan oleh Ir. Soekarno sebagai usulannya untuk dasar negara Republik Indonesia, maka tanggal ini diperingati secara nasional.

Perlu diketahui bahwa kelima dasar negara tersebut baru secara resmi disahkan pada 18 Agustus 1945 dan dimuat dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 tanpa menyebut istilah “Pancasila” secara eksplisit. Meski demikian, sebagai dasar negara, Pancasila merupakan pondasi dan bintang pemandu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu, setiap peringatan Hari Lahir Pancasila seharusnya dijadikan momen untuk merenungkan dan meresapi kembali nilai-nilai luhur Pancasila, baik sebagai ideologi, dasar negara, maupun pedoman hidup bangsa.

Tiga Pilar Kekuatan Bangsa

Maju mundurnya suatu bangsa sangat bergantung pada tiga hal utama:

1. Ideologi yang dianut,

2. Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pemerintahan dan masyarakat,

Baca :  Babinsa Koramil 415-02/Mersam Bagikan Bendera Merah Putih Sambut HUT ke-81 RI

3. Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki.

Ketiga aspek ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, dengan ideologi sebagai pengikat utama. Negara dengan SDA dan SDM unggul tetap akan gagal bila rakyatnya tidak menaati ideologi negaranya. Sebaliknya, ideologi yang baik tanpa dukungan SDM dan SDA yang memadai juga tidak akan membawa kemajuan. Maka dari itu, ideologi – dalam hal ini Pancasila – menjadi kunci utama.

Pancasila: Ideologi Asli Bangsa Indonesia

Setiap negara pasti memiliki ideologi sebagai fondasi nilai dan arah kebijakan. Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang memiliki ideologi dengan karakteristik khas – lahir dari budaya, agama, dan adat-istiadat yang telah hidup dalam masyarakat sejak lama. Pancasila adalah hasil dari nilai-nilai yang bersumber dari dalam bangsa Indonesia sendiri, bukan adopsi dari luar. Oleh karena itu, Pancasila disebut sebagai ideologi terbuka (Kaelan, 2004) karena mampu berkembang sesuai zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Paradigma dalam Mengimplementasikan Pancasila

Memperingati Hari Lahir Pancasila adalah momen penting untuk menata kembali cara pandang dan paradigma kita dalam mengimplementasikan nilai-nilainya. Namun, dalam pelaksanaannya, muncul beberapa paradigma yang seringkali menyesatkan:

Baca :  Pererat Silaturahmi, Babinsa Koramil 415-13/Sebapo Komsos Bersama Warga Desa Bukit Subur

1. Paradigma sektarian

Menganggap bahwa pelaksanaan Pancasila dapat disesuaikan secara mutlak dengan adat, agama, atau kepercayaan masing-masing, tanpa mempedulikan kesatuan NKRI. Paradigma ini berpotensi memicu konflik, karena menjadikan kelompok lain sebagai “yang berbeda” bahkan sebagai musuh.

2. Paradigma liberal

Menganggap bahwa Pancasila hanyalah kumpulan nilai yang dapat disesuaikan dengan selera publik atau media sosial. Akibatnya, pembentukan peraturan perundang-undangan dan praktik demokrasi tidak lagi berpijak pada nilai-nilai dasar bangsa.

3. Paradigma ideal (yang seharusnya)

Menempatkan Pancasila sebagai dasar utama, yang memandu seluruh adat, agama, dan kepercayaan agar tetap dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Konsep Bhineka Tunggal Ika menjadi perekat keragaman. Dalam paradigma ini, menjalankan adat atau agama berarti juga menjalankan Pancasila.

Paradigma ideal inilah yang seharusnya dijadikan pegangan. Pancasila bukan alat politik, bukan pula sekadar retorika. Ia adalah landasan moral dan hukum bangsa.

Pancasila Sebagai Ideologi Non-Operasional

Kaelan (2004) menyebut Pancasila sebagai ideologi non-operasional, artinya lima sila Pancasila tidak bisa langsung diterapkan tanpa dukungan sistem. Agar Pancasila menjadi ideologi yang operasional, diperlukan empat komponen penting:

Baca :  Lewat Komsos, Babinsa Koramil Mersam Pererat Silaturahmi dan Pantau Kondisi Wilayah Binaan

1. Peraturan perundang-undangan,

2. Pembentuk undang-undang (legislatif dan eksekutif),

3. Pelaksana peraturan,

4. Masyarakat.

Semua elemen ini harus bekerja secara terpadu dan selaras. Sayangnya, dalam praktiknya, pembentuk regulasi sering menjadi titik masalah, karena tafsir terhadap Pancasila kerap dipengaruhi oleh kepentingan politik atau kelompok tertentu.

Refleksi Hari Lahir Pancasila

Oleh karena itu, pada peringatan Hari Lahir Pancasila ini, anggota legislatif dan eksekutif perlu merenungi kembali perannya sebagai pelayan rakyat yang berpijak pada nilai-nilai Pancasila. Mereka mesti menempatkan Pancasila sebagai bintang pemandu dalam setiap kebijakan dan keputusan. Begitu pula masyarakat, harus memahami dan menjalankan Pancasila bukan sebagai hafalan semata, tetapi sebagai nilai hidup yang mempersatukan.

Dengan meletakkan Pancasila pada tempatnya, kita berharap bangsa ini tetap kokoh berdiri dalam keberagaman, menjadi bangsa yang maju, adil, dan bermartabat di bawah naungan ideologi luhur yang telah digali dari akar bangsa sendiri.**)

Share :

Baca Juga

TNI-POLRI

Babinsa Koramil 415-12/Pasar Bersama Petugas Cek Kondisi Pintu Air di Kelurahan Beringin untuk Cegah Banjir

TNI-POLRI

Personil Kodim 0415/Jambi Ikuti Upacara Ziarah Nasional Hari Pahlawan ke-80

TNI-POLRI

Anjangsana Babinsa ke Ketua Pemuda, Merawat Pembinaan Generasi Muda Tanjung Raden

TNI-POLRI

Sinergi TNI dan Warga Desa Kemuning: Jalan TMMD ke-124 Percepat Akses dan Tingkatkan Kesejahteraan

TNI-POLRI

Babinsa Talang Jauh Koordinasi dengan Tokoh Agama Khonghucu Jelang Imlek

TNI-POLRI

Danramil 415-10/Jambi Selatan Hadiri Pembukaan MTQ ke-IV Tingkat Kecamatan Jelutung

TNI-POLRI

TNI AD Siagakan 5.000 Personel Amankan Malam Tahun Baru di Jakarta

TNI-POLRI

Perluas Layanan Kesehatan, Babinsa Hadiri Sosialisasi SPM Posyandu di Sei Asam