Sigap! Ratusan Personel Gabungan “Grebek Sungai”, Perbaiki Tanggul di Bandar Lampung Babinsa Fasilitasi Rapat Warga, Cari Solusi Drainase Berbau Danramil Hadiri Sosialisasi P4GN, Dorong Sinergi Lawan Narkoba Babinsa Nongkrong di Bengkel, Serap Informasi dari Warga Babinsa Perkuat Komsos di Pinggir Batanghari, Dekatkan Diri ke Warga

Home / Militer

Minggu, 1 Juni 2025 - 10:00 WIB

MERESAPI KEMBALI PANCASILA SEBAGAI BINTANG PEMANDU

Oleh: Dr. Arfa’i, SH, MH.

Dosen Hukum Tata Negara, Fakultas Hukum Universitas Jambi

Tanggal 1 Juni 2025 diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Meskipun pada tanggal 1 Juni 1945 belum terjadi finalisasi atas nama dan isi Pancasila, namun karena istilah “Pancasila” pertama kali diutarakan oleh Ir. Soekarno sebagai usulannya untuk dasar negara Republik Indonesia, maka tanggal ini diperingati secara nasional.

Perlu diketahui bahwa kelima dasar negara tersebut baru secara resmi disahkan pada 18 Agustus 1945 dan dimuat dalam Pembukaan UUD NRI Tahun 1945 tanpa menyebut istilah “Pancasila” secara eksplisit. Meski demikian, sebagai dasar negara, Pancasila merupakan pondasi dan bintang pemandu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Oleh sebab itu, setiap peringatan Hari Lahir Pancasila seharusnya dijadikan momen untuk merenungkan dan meresapi kembali nilai-nilai luhur Pancasila, baik sebagai ideologi, dasar negara, maupun pedoman hidup bangsa.

Tiga Pilar Kekuatan Bangsa

Maju mundurnya suatu bangsa sangat bergantung pada tiga hal utama:

1. Ideologi yang dianut,

2. Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pemerintahan dan masyarakat,

Baca :  Babinsa Jambi Timur Komsos dengan Juru Parkir, Tekankan Pelayanan dan Keamanan

3. Sumber Daya Alam (SDA) yang dimiliki.

Ketiga aspek ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan, dengan ideologi sebagai pengikat utama. Negara dengan SDA dan SDM unggul tetap akan gagal bila rakyatnya tidak menaati ideologi negaranya. Sebaliknya, ideologi yang baik tanpa dukungan SDM dan SDA yang memadai juga tidak akan membawa kemajuan. Maka dari itu, ideologi – dalam hal ini Pancasila – menjadi kunci utama.

Pancasila: Ideologi Asli Bangsa Indonesia

Setiap negara pasti memiliki ideologi sebagai fondasi nilai dan arah kebijakan. Indonesia dikenal dunia sebagai negara yang memiliki ideologi dengan karakteristik khas – lahir dari budaya, agama, dan adat-istiadat yang telah hidup dalam masyarakat sejak lama. Pancasila adalah hasil dari nilai-nilai yang bersumber dari dalam bangsa Indonesia sendiri, bukan adopsi dari luar. Oleh karena itu, Pancasila disebut sebagai ideologi terbuka (Kaelan, 2004) karena mampu berkembang sesuai zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Paradigma dalam Mengimplementasikan Pancasila

Memperingati Hari Lahir Pancasila adalah momen penting untuk menata kembali cara pandang dan paradigma kita dalam mengimplementasikan nilai-nilainya. Namun, dalam pelaksanaannya, muncul beberapa paradigma yang seringkali menyesatkan:

Baca :  Pererat Kedekatan dengan Warga, Babinsa Desa Tanjung Harapan Gelar Komsos

1. Paradigma sektarian

Menganggap bahwa pelaksanaan Pancasila dapat disesuaikan secara mutlak dengan adat, agama, atau kepercayaan masing-masing, tanpa mempedulikan kesatuan NKRI. Paradigma ini berpotensi memicu konflik, karena menjadikan kelompok lain sebagai “yang berbeda” bahkan sebagai musuh.

2. Paradigma liberal

Menganggap bahwa Pancasila hanyalah kumpulan nilai yang dapat disesuaikan dengan selera publik atau media sosial. Akibatnya, pembentukan peraturan perundang-undangan dan praktik demokrasi tidak lagi berpijak pada nilai-nilai dasar bangsa.

3. Paradigma ideal (yang seharusnya)

Menempatkan Pancasila sebagai dasar utama, yang memandu seluruh adat, agama, dan kepercayaan agar tetap dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Konsep Bhineka Tunggal Ika menjadi perekat keragaman. Dalam paradigma ini, menjalankan adat atau agama berarti juga menjalankan Pancasila.

Paradigma ideal inilah yang seharusnya dijadikan pegangan. Pancasila bukan alat politik, bukan pula sekadar retorika. Ia adalah landasan moral dan hukum bangsa.

Pancasila Sebagai Ideologi Non-Operasional

Kaelan (2004) menyebut Pancasila sebagai ideologi non-operasional, artinya lima sila Pancasila tidak bisa langsung diterapkan tanpa dukungan sistem. Agar Pancasila menjadi ideologi yang operasional, diperlukan empat komponen penting:

Baca :  Babinsa Sungai Asam Pantau Harga Sembako Jelang Ramadhan

1. Peraturan perundang-undangan,

2. Pembentuk undang-undang (legislatif dan eksekutif),

3. Pelaksana peraturan,

4. Masyarakat.

Semua elemen ini harus bekerja secara terpadu dan selaras. Sayangnya, dalam praktiknya, pembentuk regulasi sering menjadi titik masalah, karena tafsir terhadap Pancasila kerap dipengaruhi oleh kepentingan politik atau kelompok tertentu.

Refleksi Hari Lahir Pancasila

Oleh karena itu, pada peringatan Hari Lahir Pancasila ini, anggota legislatif dan eksekutif perlu merenungi kembali perannya sebagai pelayan rakyat yang berpijak pada nilai-nilai Pancasila. Mereka mesti menempatkan Pancasila sebagai bintang pemandu dalam setiap kebijakan dan keputusan. Begitu pula masyarakat, harus memahami dan menjalankan Pancasila bukan sebagai hafalan semata, tetapi sebagai nilai hidup yang mempersatukan.

Dengan meletakkan Pancasila pada tempatnya, kita berharap bangsa ini tetap kokoh berdiri dalam keberagaman, menjadi bangsa yang maju, adil, dan bermartabat di bawah naungan ideologi luhur yang telah digali dari akar bangsa sendiri.**)

Share :

Baca Juga

Militer

Dandim 0415/Jambi Hadiri Rapat Penyiapan Lahan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih

Militer

Koramil Ma Tembesi Gelar Patroli Terpadu Perkuat Keamanan Wilayah

Militer

Pangdam XXI/Radin Inten Ikuti Zoom Meeting Penanaman Jagung Serentak Kuartal IV Tahun 2025, Dukung Swasembada Pangan Nasional

Militer

Babinsa Ulu Gedong Bantu Pembuatan MCK Warga, Wujud Kepedulian TNI

Militer

Babinsa Sungai Asam Gelar Komsos Bersama Lurah dan Warga, Perkuat Sinergi Kewilayahan

Militer

Danrem 043/Gatam Hadiri Pertemuan High Level Meeting TPID Provinsi Lampung

Militer

Babinsa Mersam Ajak Anak-anak Bermain Bola, Tanamkan Semangat Sportivitas dan Cita-Cita

Militer

Balai Pertemuan Diresmikan, Babinsa Tegaskan Dukungan TNI untuk Desa