Muara Bulian, Jambi – Di balik senyapnya siang Desa Tidar Kuranji, Kecamatan Muaro Sebo Ilir, Kabupaten Batanghari, terselip momen sederhana namun penuh makna. Senin, 7 Juli 2025, makan siang bersama menjadi jembatan keakraban antara aparat dan warga—membuktikan bahwa kedekatan tak selalu hadir lewat upacara atau rapat resmi.
Babinsa Koramil 415-04/Muara Bulian, Sertu Reflizar, bersama Bhabinkamtibmas Polsek Muaro Sebo Ilir, duduk bersila di tempat lesehan. Tak ada jarak, tak ada pangkat—yang ada hanyalah tawa renyah, obrolan santai, dan hidangan yang tersedia di atas meja lesehan. Mereka menyatu dalam suasana penuh kekeluargaan bersama perangkat desa setempat.
“Silaturahmi itu fondasi dari ketahanan wilayah. Kita ingin kehadiran TNI dan Polri terasa sebagai sahabat, bukan sekadar penjaga,” tutur Sertu Reflizar sembari menyendok sayur yang dihidangkan hangat.
Menurutnya, komunikasi sosial bisa terbangun lewat cara apa pun, termasuk dari piring yang sama. Baginya, makan bersama bukan hanya mengisi perut, tetapi mengisi ruang-ruang kepercayaan antara aparat dan rakyat.
“Makan bersama ini jadi simbol. Kami duduk bersama bukan karena perintah, tapi karena hati. Di sinilah rasa hormat dan kebersamaan tumbuh,” tambahnya.
Perangkat desa pun menyambut hangat inisiatif tersebut. Kehadiran aparat di tengah masyarakat, apalagi dalam suasana santai, menjadi penguat bahwa keamanan dan kenyamanan warga adalah tanggung jawab bersama.
“Kami merasa diperhatikan, dan yang lebih penting, kami merasa dekat. Ini bukan soal tugas formal, tapi kemanusiaan,” ungkap salah satu perangkat desa yang enggan disebutkan namanya.
Di tengah tantangan menjaga keamanan desa, sinergi seperti ini menjadi kunci. Semangat persaudaraan antara TNI, Polri, dan pemerintah desa adalah modal sosial untuk membangun wilayah yang aman, damai, dan sejahtera.
Karena sejatinya, kehadiran aparat bukan sekadar berdiri di garis depan, tapi juga duduk di tengah masyarakat—mendengar, memahami, dan menguatkan. (Dimjbi/jt54)










