Jambi, SriwijayaDaily.com – Di tengah merosotnya minat baca anak-anak akibat gempuran gawai, SDN 146/IV Kota Jambi memilih langkah yang senyap namun strategis: menghadirkan kembali kebiasaan membaca buku selama 30 menit setiap hari. Program yang mereka namai “Gembok 30” itu menjadi ikhtiar kecil untuk mengunci budaya literasi sebelum hilang di antara deru layar sentuh dan konten instan.
Senin pagi (24/11/2025), halaman sekolah di RT 15 Kelurahan SP III Sipin tampak lebih ramai dari biasanya. Babinsa Koramil 415-09/Telanaipura, Serka Mardianto, hadir mendampingi para siswa yang duduk berjajar dengan buku di tangan. Kehadiran aparat teritorial dalam kegiatan literasi bukan pemandangan umum, namun justru di situlah pesan utamanya: pendidikan, terutama literasi, tak boleh berjalan sendiri. Ia perlu ditopang banyak pihak.
Sejumlah pemangku kebijakan lokal ikut hadir—Sekretaris Camat Kotabaru Budiman, Lurah SP III Sipin, Bhabinkamtibmas, dan TP PKK. Kegiatan sederhana itu pun berubah menjadi penegasan bahwa minat baca bukan lagi sekadar urusan sekolah, melainkan agenda bersama yang menyentuh kepentingan publik.
Di sela kegiatan, Serka Mardianto menekankan bahwa kebiasaan membaca akan menentukan bentuk masa depan anak-anak.
“Membaca memperluas wawasan, melatih daya ingat, dan mengasah kemampuan berpikir. Kebiasaan ini membuka peluang lebih besar bagi anak-anak meraih cita-cita,” ujarnya. Menurutnya, kemampuan memahami teks menjadi benteng penting di era ketika informasi datang tanpa henti, namun kebenarannya sering kabur.
Program Gembok 30 diharapkan bukan hanya menjadi seremoni rutin yang cepat dilupakan. Ia dimaksudkan sebagai pembiasaan jangka panjang: membuat siswa akrab dengan buku, terbiasa bertanya, dan mampu mencari jawaban dari sumber yang sahih. Jika dirawat konsisten, program ini bisa menjadi bibit lahirnya generasi yang lebih kritis dan tak mudah digiring oleh opini sesaat.
Gerakan kecil seperti ini mungkin tak mampu mengubah statistik literasi nasional dalam sekejap. Namun perubahan besar sering kali tumbuh dari meja belajar yang sederhana—dari seorang anak yang membuka halaman buku dan menemukan cara baru memandang dunia.**










