Jambi, SRIWIJAYADAILY — Dari kota yang dikenal dengan batik dan Sungai Batanghari, muncul sosok remaja yang menarik perhatian publik nasional karena kecintaannya pada budaya Indonesia. Ia adalah Naura Anindya Putri, siswi SMPIT Diniyyah Al-Azhar Jambi, yang berhasil mengharumkan nama daerah lewat prestasinya di ajang Duta Wastra Indonesia 2025.
Naura merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi pendidikan dan nilai-nilai religius. Ayahnya, Saringan, S.Farm., Apt., MH., dikenal tegas dan berwawasan luas, sementara ibunya, Hendriani, Am.Farm., seorang hafizah Al-Qur’an 10 juz, memberikan dasar akhlak dan kelembutan dalam kehidupan Naura.
Ketertarikan Naura terhadap seni dan budaya sudah terlihat sejak kecil. Ia aktif mengikuti fashion show dan lomba puisi, serta pernah dipercaya menyambut kedatangan Ibu Wakil Presiden yang mendampingi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat berkunjung ke Jambi. Momen itu menjadi awal dari perjalanan panjangnya dalam dunia seni dan budaya.
Langkah Naura semakin kuat ketika mengikuti Pemilihan Duta Wastra Kota Jambi 2025. Dengan penampilan anggun dan pemahaman mendalam tentang kain tradisional, ia meraih Runner-up II Duta Wastra Kota Jambi dan gelar Duta Favorit Kota Jambi.
Prestasinya berlanjut ke tingkat provinsi. Dalam Pemilihan Duta Wastra Provinsi Jambi 2025, Naura tampil meyakinkan dan berhasil meraih dua gelar utama, yakni Winner Duta Wastra Provinsi Jambi 2025 dan Miss Media Sosial 2025. Keberhasilan ini mengantarkannya mewakili Jambi di tingkat nasional.
Di Ajang Duta Wastra Indonesia 2025, Naura kembali mencuri perhatian. Ia tampil membawakan busana malam yang memadukan kemegahan modern dengan motif Batik Jambi. Penampilannya mengantarkan dua penghargaan prestisius: The Best Evening Gown 2025 dan Icon Teen Duta Wastra Indonesia 2025.
“Saya ingin terus mengenalkan batik dan kain tradisional Indonesia ke dunia. Setiap motif punya cerita dan warisan leluhur yang harus dijaga,” ujar Naura.
Meski aktif di dunia wastra, Naura tetap memegang teguh cita-citanya menjadi seorang dokter. Ia ingin membuktikan bahwa generasi muda bisa berprestasi tanpa meninggalkan identitas dan budaya lokal.
Kisah Naura menjadi cerminan bahwa dari daerah pun, kontribusi bagi Indonesia bisa lahir. Bukan hanya dari panggung besar ibu kota, tetapi juga dari siswa sekolah yang mencintai budaya dan bekerja keras mewujudkan mimpinya.**










