PWI PROVINSI JAMBI BERDUKA, KELUARGA BESAR PWI KEHILANGAN SOSOK PANUTAN Dr. H. Budi Setiawan Kenang Herry Rawas, Jurnalis Santun yang Selalu Menjaga Etika Profesional dan Transparan, Revitalisasi SDN 219 Kota Jambi Diharapkan Jadi Percontohan Pembangunan Sekolah PWI Kehilangan Sosok Panutan, Dunia Pers Jambi Kehilangan Sahabat Babinsa Danau Teluk Dampingi Reses Anggota DPR RI, Serap Aspirasi Warga Pasir Panjang

Home / Nasional / Olahraga

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 18:12 WIB

Garuda Tanpa Dignity

Kegagalan Timnas Indonesia di AFF 2026 dan Krisis Identitas Permainan

Oleh: Firdaus

Ada kekalahan yang bisa diterima dengan lapang dada. Ada pula kekalahan yang meninggalkan pertanyaan panjang. Bagi saya, kegagalan Timnas Indonesia di AFF 2026 termasuk yang kedua.

Bukan semata karena Indonesia gagal melaju ke semifinal. Bukan pula hanya karena hasil pertandingan melawan Singapura yang berakhir 1-1. Yang lebih mengganggu adalah cara Timnas Indonesia memainkan sepak bola.

Saya melihat ada sesuatu yang hilang dari permainan Garuda: dignity—harga diri, keberanian, dan karakter sebagai sebuah tim nasional.

Posisi akhir Indonesia di Grup A, yakni peringkat ketiga, menjadi gambaran sederhana tentang hasil perjalanan tersebut. Indonesia berada di bawah Vietnam dan Singapura sehingga harus mengakhiri perjuangan di fase grup. Bagi sepak bola Indonesia yang datang dengan harapan besar, posisi itu tentu bukan hasil yang diinginkan.

Namun, bagi saya, angka di klasemen hanyalah akibat. Persoalan sesungguhnya berada pada bagaimana Indonesia sampai ke posisi tersebut.

Sepak bola memang tidak menjanjikan kemenangan. Bahkan tim terbaik sekalipun bisa kalah. Tetapi ketika sebelas pemain mengenakan jersey Merah Putih, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan. Ada keberanian untuk bertarung, ada keyakinan untuk melawan, dan ada karakter untuk tidak menyerah ketika situasi menjadi sulit.

Hal itu yang menurut saya tidak cukup terlihat dalam perjalanan Indonesia di AFF 2026.

Saya tidak ingin kegagalan ini hanya diarahkan kepada pemain. Terlalu sederhana jika kita mengatakan Indonesia gagal karena salah memilih pemain. Pemain bisa bermain buruk. Pemain bisa kehilangan konsentrasi. Pemain bisa membuat kesalahan. Itu bagian dari sepak bola.

Tetapi ketika kesalahan muncul berulang dan tim tidak memiliki respons yang jelas, persoalannya sudah masuk ke wilayah yang lebih besar: strategi dan kepemimpinan di lapangan.

Di situlah John Herdman harus dievaluasi.

Baca :  KODRAT Kota Jambi Cetak Petarung Baru, Mantapkan Persiapan Hadapi Kejurprov Jambi

Herdman tentu bukan satu-satunya orang yang harus bertanggung jawab. Namun sebagai pelatih kepala, dialah yang bertugas meramu berbagai karakter pemain menjadi satu kesatuan.

Pelatih bukan sekadar memilih sebelas nama untuk menjadi starter. Pelatih harus menciptakan sebuah tim.

Dan menurut pandangan saya, Herdman belum berhasil melakukan itu.

Saya melihat Timnas Indonesia terlalu sering seperti kumpulan pemain, bukan sebuah tim yang memiliki mekanisme permainan yang jelas. Ada pemain bagus, ada pemain berpengalaman, ada pemain dengan kemampuan individu yang menjanjikan. Tetapi semuanya belum menjadi satu orkestrasi yang harmonis.

Sepak bola bukan soal siapa pemain paling hebat.

Sepak bola adalah tentang bagaimana pemain-pemain itu saling mengerti.

Ketika seorang bek maju, siapa yang menutup ruang? Ketika gelandang kehilangan bola, siapa yang melakukan pressing? Ketika penyerang turun terlalu dalam, siapa yang masuk ke ruang kosong? Ketika tim unggul, bagaimana cara mempertahankan kendali?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu seharusnya sudah memiliki jawaban di lapangan.

Sayangnya, saya tidak selalu melihat jawaban tersebut.

Pertandingan melawan Singapura menjadi gambaran paling jelas.

Indonesia memasuki pertandingan dengan tekanan besar karena laga tersebut menentukan nasib mereka di turnamen. Babak pertama berakhir tanpa gol.

Kemudian pada awal babak kedua, Ragnar Oratmangoen membawa Indonesia unggul 1-0 pada menit ke-47.

Gol itu seharusnya menjadi momentum.

Dalam situasi seperti itu, saya membayangkan Indonesia akan bermain lebih dewasa. Menguasai bola lebih baik, memperlambat tempo ketika diperlukan, memaksa Singapura keluar dari pertahanannya, lalu mencari kesempatan mencetak gol kedua.

Namun yang terjadi tidak demikian.

Singapura justru mampu bangkit. Tekanan datang dan Indonesia tidak cukup mampu mengendalikan permainan. Sampai akhirnya Ilhan Fandi mencetak gol penyama kedudukan pada menit ke-66.

Skor menjadi 1-1.

Setelah itu, Indonesia seperti kehilangan kesempatan untuk mengubah keadaan.

Di sinilah saya melihat persoalan terbesar Herdman.

Pelatih harus mampu membaca pertandingan.

Baca :  Belgia Bangkit dari Jurang, Tielemans Antar Setan Merah ke 16 Besar

Sepak bola tidak berhenti pada strategi yang dibuat sebelum pertandingan. Strategi awal bisa saja salah. Lawan bisa mengubah cara bermain. Pemain bisa mengalami kelelahan. Situasi psikologis bisa berubah.

Ketika itu terjadi, pelatih harus mempunyai solusi.

Pergantian pemain bukan sekadar mengganti pemain A dengan pemain B. Pergantian harus mengubah sesuatu: mengubah ritme, memperbaiki kelemahan, atau memberikan dimensi baru terhadap permainan.

Kalau perubahan tidak membawa pengaruh, kita patut bertanya: apakah memang ada rencana kedua?

Pertanyaan itulah yang menurut saya layak diarahkan kepada Herdman.

Saya juga tidak melihat masalah Indonesia hanya muncul dalam pertandingan melawan Singapura. Kekalahan dari Vietnam sebelumnya merupakan bagian dari rangkaian persoalan yang akhirnya membawa Indonesia ke situasi sulit.

Dalam turnamen pendek, setiap pertandingan memiliki konsekuensi.

Satu kesalahan hari ini bisa menjadi beban pertandingan berikutnya. Satu poin yang hilang bisa membuat pertandingan berikutnya menjadi pertandingan hidup-mati.

Karena itu, kegagalan Indonesia bukan produk satu pertandingan.

Ia merupakan akumulasi.

Akumulasi dari strategi yang tidak berjalan, permainan yang tidak konsisten, pengambilan keputusan yang dipertanyakan, serta ketidakmampuan menjaga momentum.

Dan yang paling penting, Indonesia belum menemukan identitas permainannya.

Saya tidak bermaksud mengatakan Indonesia harus selalu bermain menyerang. Tidak.

Bermain pragmatis juga sah. Bermain bertahan juga sah. Serangan balik juga merupakan bagian dari sepak bola modern.

Yang penting adalah pemain tahu apa yang harus dilakukan.

Saya ingin melihat Timnas Indonesia memiliki wajah yang jelas. Ketika menonton pertandingan, kita bisa mengatakan: inilah Indonesia.

Sayangnya, di AFF 2026 saya belum mendapatkan perasaan itu.

Yang terlihat justru permainan yang mudah kehilangan arah ketika mendapat tekanan.

Itulah sebabnya saya memahami istilah dignity yang menjadi persoalan.

Dignity dalam sepak bola bukan berarti tidak boleh kalah. Dignity berarti ketika kalah pun kita tahu bahwa tim telah memberikan sesuatu yang layak dihormati.

Baca :  Sambut Tahun Baru Islam 1448 H, Babinsa Beliung Hadiri Ceramah Agama di Masjid Al Ikhlas

Ada keberanian.

Ada perjuangan.

Ada kecerdasan.

Ada karakter.

Dan yang paling penting, ada keyakinan bahwa pertandingan belum berakhir sebelum wasit meniup peluit panjang.

Indonesia harus membangun itu.

Kita tidak boleh terus terjebak dalam kebiasaan mencari kambing hitam setiap kali Timnas gagal. Hari ini pemain disalahkan. Besok pelatih. Lusa federasi. Setelah itu semuanya dilupakan.

Kemudian siklus yang sama kembali terjadi.

Menurut saya, evaluasi harus dilakukan secara menyeluruh.

Jika Herdman dianggap gagal, katakan gagal dan jelaskan mengapa. Jika pemilihan pemain bermasalah, perbaiki. Jika sistem permainan tidak cocok dengan karakter pemain, ubah. Jika persiapan kurang, perbaiki persiapan.

Tetapi jangan berhenti pada pergantian nama.

Sebab mengganti pelatih tanpa memperbaiki sistem hanya akan mengulang cerita yang sama.

Peringkat ketiga di Grup A harus menjadi alarm, bukan sekadar catatan statistik.

Ia mengingatkan kita bahwa ambisi menjadi kekuatan sepak bola Asia Tenggara tidak cukup dibangun dengan optimisme. Dibutuhkan perencanaan, sistem permainan, konsistensi, dan keberanian mengambil keputusan.

AFF 2026 harus menjadi cermin.

Cermin untuk melihat bahwa Timnas Indonesia memang memiliki banyak pemain potensial, tetapi potensi individu belum otomatis menjadi kekuatan kolektif.

Kita membutuhkan lebih dari sekadar sebelas pemain berbakat.

Kita membutuhkan sebelas pemain yang tahu mengapa mereka berada di lapangan dan untuk apa mereka berjuang.

Saya percaya masyarakat Indonesia tidak menuntut Garuda selalu menang.

Yang mereka tuntut sederhana: berjuanglah dengan bermartabat.

Kalah boleh.

Tersingkir boleh.

Tetapi jangan kehilangan karakter.

Sebab pada akhirnya, yang membuat sebuah tim nasional dihormati bukan hanya jumlah trofi yang dikumpulkan.

Melainkan cara ia berdiri ketika berada dalam tekanan.

Dan AFF 2026 telah memperlihatkan pekerjaan rumah terbesar Timnas Indonesia: mengembalikan dignity Garuda sebelum kembali berbicara tentang gelar.

Sebab Garuda tidak cukup hanya memiliki pemain bagus.

Garuda membutuhkan jiwa sebuah tim.

(Selesai)

Share :

Baca Juga

Nasional

Korem 042/Gapu Gelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

Nasional

Cegah Terjadinya Perundungan Anak di Lingkungan Sekolah, Ini Pesan Babinsa Dihadapan Para Ortu dan Siswa

Nasional

Korem 044/Gapo Gelar Penyuluhan Penanganan dan Pencegahan Covid-19

Nasional

Babinsa Koramil 415-06/Pijoan dan Warga Sidomukti Bersatu Bersihkan Pura Tirta Wening

Nasional

Danramil 415-11/JT Hadiri Sertijab Lurah Tanjung Sari dan Tanjung Pinang

Nasional

Tinjau Bakti Negeri Akabri 2001, Kapolri Tekankan Vaksinasi Hingga Waspadai Pintu Masuk Negara

Nasional

OPM Teror Distrik Sinak, Koops TNI Habema Berhasil Atasi Dan Tembak Anggota OPM

Nasional

Danrem 041/Gamas Ikuti Vidcon Peresmian Sumur Bor TNI Manunggal Air Bersama KASAD