Oleh: Laksma TNI (Purn) Jaya Darmawan, M.Tr.Opsla.
Jakarta – Dalam lintasan sejarah panjang Indonesia, mulai dari era Presiden Soekarno hingga kini di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, bangsa ini telah melewati berbagai babak perubahan sosial, politik, dan spiritual. Dalam suasana kebangsaan yang semakin gerah, sebuah refleksi mendalam tentang tanda-tanda zaman—sebuah ajakan untuk _eling lan waspodo_, yaitu sadar diri dan waspada agar tidak tersesat dalam kabut peradaban yang kian terbalik nilai.
Zaman Edan, Kolotido, dan Kolo Bendu: Kearifan Jawa dan Pesan Kemanusiaan
Berdasarkan kebudayaan Jawa, terutama dari karya-karya pujangga besar seperti Ranggawarsita dalam Serat Kalatidha dan Serat Sabdatama, terdapat tiga fase zaman yang penuh makna filosofis :
1. Zaman Edan
Zaman ketika akal sehat tidak lagi dipakai. Nilai benar dan salah terbalik. Kejujuran dikucilkan, kelicikan diagungkan. Ilmu dijadikan alat memperkaya diri, dan agama digunakan untuk kepentingan duniawi. Nafsu menguasai hati, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Anfal:24.
2. Zaman Kolotido
Berarti “waktu tidur”, menunjukkan saat hati nurani dan akal budi masyarakat tertidur. Kebenaran dibungkam, banyak orang tahu tapi memilih diam. Budaya luhur tak lagi dijadikan rujukan.
3. Zaman Kolo Bendu
Zaman kemurkaan, di mana Tuhan dan alam murka akibat kerusakan yang melampaui batas. Ditandai dengan bencana alam, ketimpangan sosial ekstrem, dan krisis moral serta spiritual yang merajalela.
Keselarasan dengan Ajaran Islam: Peringatan dari Allah dan Rasul-Nya
Fenomena ini memiliki padanan dalam ajaran Islam :
• QS. Al-A’raf:179 mengingatkan tentang manusia yang tidak menggunakan hati untuk memahami kebenaran.
• QS. Al-Anfal:25 memperingatkan bahwa azab Allah bisa menimpa semua pihak yang pasif terhadap kezaliman.
• HR. Muslim No. 185 menegaskan kewajiban menolak kemungkaran, meski hanya dengan lisan atau hati.
Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing di akhir zaman. Maka, sabda Rasulullah, berbahagialah mereka yang tetap berpegang pada kebenaran di tengah keterasingan.
Realitas Indonesia Satu Dekade Terakhir: Tanda-Tanda Itu Semakin Nyata
Dalam sepuluh tahun terakhir, tanda-tanda zaman edan dan kolo bendu semakin terlihat jelas :
1. Korupsi merajalela, meski pendidikan agama diajarkan di sekolah.
2. Fitnah dan hoaks mendominasi media sosial dan ruang publik.
3. Kebijakan negara sering tidak pro-rakyat kecil.
4. Bencana alam dan cuaca ekstrem meningkat.
5. Ketimpangan ekonomi sangat tajam, dengan 10% penduduk menguasai 77% kekayaan nasional.
Kondisi ini menggambarkan fase akhir dari zaman fitnah—saat dunia terbalik dan kebenaran menjadi barang langka.
Sikap Seorang Beriman: Kuat, Sabar, dan Teguh Pendirian
Dalam menghadapi zaman seperti ini, orang beriman dituntut untuk :
1. Tetap istiqamah dalam iman meski dianggap “gila”.
2. Melakukan amar ma’ruf nahi munkar, dengan tangan, lisan, tulisan, atau hati.
3. Berlindung kepada Allah dari fitnah akhir zaman.
4. Bersyukur dan bersabar atas ujian yang datang.
Dalil-Dalil Penguat :
• QS. Al-Baqarah:2 — Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi orang bertakwa.
• QS. Al-Ankabut:2 — Ujian sebagai konsekuensi dari keimanan.
• QS. Hud:113 — Larangan cenderung pada kezaliman.
• HR. Muslim— Islam datang dan kembali dalam keadaan asing.
Peringatan Keras bagi Mereka yang Pasif dan Diam
Allah SWT dengan tegas memperingatkan :
“Mereka tidak saling melarang perbuatan mungkar yang mereka kerjakan. Sungguh, amat buruk apa yang mereka perbuat itu.” (QS. Al-Ma’idah:79)
Tafsir Ibn Katsir menegaskan bahwa membiarkan kemungkaran berarti turut menanggung azab, meskipun tidak melakukannya secara langsung.
Penutup: Jangan Lupa Jalan Pulang
Di tengah arus zaman yang menggelisahkan, mari kita kembali menguatkan jati diri. Bangsa ini butuh kesadaran kolektif untuk tidak larut dalam edan, kolotido, dan kolo bendu. Eling lan waspodo bukan sekadar slogan, melainkan jalan pulang agar kita tidak kehilangan arah di tengah dunia yang terbalik.
Wallahu ‘alam bissawaab…










